Serapan Beras di Jateng Capai 27.100 Ton

Foto: Ilustrasi beras/Pixabay

Klaten, Suryamedia.id – Serapan beras di Jawa Jateng menduduki nomor dua tertinggi di Indonesia. Yakni sebanyak 27.100 ton atau rata-rata 1.500 ton beras per harinya.

Pemimpin Wilayah Bulog Jateng Miftahul Ulum mengatakan, serapan beras di Jawa Tengah nomor berada satu nomor di bawah Sulawesi Selatan.

“Sampai hari ini kita menyerap 27.100 ton hampir 30 ribu ton. Kita nomor dua di Indonesia di bawah Sulawesi Selatan,” ujarnya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau Gudang Bulog di Banaran, Delanggu, Klaten, Senin (29/3/ 2021).

Banyaknya serapan beras di Jawa Tengah ini karena hasil panen yang melimpah, serta banyak mitra yang menjual beras ke Bulog. Kualitas hasil panen beras di Jateng juga masuk kategori standar kualitas yang ditentukan.

“Kalau soal banyaknya, ya karena di sini panennya banyak, mitra-mitra menjualnya ke kita. Untuk kualitasnya sesuai standar dari kita maksimal kandungan air 14 persen,” paparnya.

Baca juga: Warung Makan Tutup, Permintaan Beras di Pasar Rembang Menurun

Baca Juga :   Program Transmigrasi Pemprov Jateng Kembali Dilaksanakan Akhir Tahun

Sementara tahun ini, Ulum mengatakan bahwa Bulog Jateng ditarget mampu menyerap gabah petani sebanyak 204.000 ton tahun ini.

“Kami optimis itu tercapai, minimal di atas 80 persen dari target. Tapi kami berharap bisa melebihi target,” katanya.

Kendati begitu, Ulum tak menampik ada kendala Bulog dalam penyerapan gabah petani. Menurutnya, kualitas gabah milik sejumlah petani tidak terlalu bagus.

“Kendalanya saat musim hujan kemarin. Jadi banyak gabah yang dipanen lebih awal, karena rusak. Dalam arti terkena banjir, padi roboh jadi segera dipanen,” imbuhnya.

Baca juga: Curah Hujan Memadai, Panen Padi di Rembang Diprediksi Meningkat

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menuturkan saat ini Bulog dituntut menyerap namun tidak ada jalur untuk mengeluarkan. Sementara, dulu Bulog punya program beras miskin (raskin), yang sekarang sudah tidak ada.

“Ini diserap terus, tidak dikeluarkan. Paling keluar rutin dari Bulog hanya untuk bencana atau operasi pasar (OP). Jadi mohon maaf, kalau tidak ada bencana atau harga stabil dan tidak ada operasi pasar, ya ndongkrok,” tegasnya.

Baca Juga :   PPKM Darurat, Bulog Pati Terapkan Sistem Drive Thru

Menurut gubernur, fungsi Bulog agak pincang. Di satu sisi mereka diminta menyerap gabah dari petani, tapi keluarnya tidak banyak, hanya untuk stok saja.

“Kalau sistemnya nggak diubah, sudah pasti serapan Bulog nggak bisa bagus. Dampaknya harga petani pasti rendah karena betul-betul menggunakan mekanisme pasar dan diadu dengan pasar,” tandasnya. (*)

Baca juga: Lumbung Nahdliyin Jadi Inovasi NU Pati Bantu Petani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here