Petani Kurang Maksimalkan Penggunaan Alsintan dari Dispertan

Pati, Suryamedia.id– Untuk meningkatkan produksi pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Pati terus salurkan puluhan alat pertanian (Alsintan) berupa kultivator (alat pengolah tanah), combine harvester (alat panen), dan tranpalnter (alat tanam padi otomastis) kepada kelompok tani di Pati.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Dispertan Pati memantau sebagian besar alat-alat tersebut telah dimanfaatkan secara optimal, kecuali rice tranplater.

Sudiyanto PPL KJF (Penyuluh Pertanian Lapangan Kelompok Jabatan Fungsional) Dinas Pertanian Kabupaten Pati mengungkapkan, hanya sebagian kecil petani saja yang mau menggunakan alat ini.

Baca Juga: Targetkan Juara, KTT Mendo Mulyo Dapat Pendampingan Dispertan

Dari pantauannya, kelompok petani yang sudah minded menggunakan transplater dari Dispertan hanya di desa Sukoharjo Runting.

Petani enggan memakai tranplanter, pasalnya sebelum digunakan, para petani harus melakukan perlakuan lebih Panjang kepada tempat penyemaian padi.

“Kalau untuk Alsintan untuk combine dan blower sudah optimal pemanfaatannya. Yang menjadi PR kita itu alat tanamnya, Transplanter. Belum digunakan sepenuhnya oleh kelompok tani. Padahal dari Dinas Pertanian sudah dibagikan banyak,” kata Sudiyono, Sabtu (12/6/21)

Baca Juga :   HPN 2023, Anggota DPRD Pati Dorong Objektivitas Media Tetap Terjaga

“Alasannya perlakuan untuk membuat persemaian itu memakan waktu sebelum bibit ditanam menggunakan mesin. Pembuatan persemaiannya, di rentetan persemainya memakan waktu,” imbuhnya

Baca Juga: Poktan di Wedarijaksa Dilatih Kendalikan Hama

Tak hanya itu, saat transplaten akan digunakan, lahan harus steril dari hama keong agar tak menghambat jalannya mesin tanam. Sedangkan para petani biasanya enggan menyingkirkan keong saat musim tanam.

Sudiyanto menyayangkan minimnya minat kelompok tani menggunakan Transplater, padahal bila dioptimalkan alat ini dapat menekan penggunaan benih hingga menghemat ongkos produksi tanam padi.

“Kalau dihitung-hitung kalau pakai Transplanter lebih murah, satu kotaknya hanya Rp 275 ribu biayanya. Paling hanya untuk bayar operator, kalau pakai kuli sudah berapa bisa jutaan belum ndautnya belum tandurnya,” urai Sudiyanto

Kendati demikian hingga saat ini, Penyuluh Pertanian terus melakukan sosialisasi dan memotivasi kelompok tani untuk mengoptimalkan Transplanter.

artikel ini telah tayang di Mitrapost.com dengan judul “Alat Tanam Padi dari Dispertan Belum Digunakan dengan Optimal”

Baca Juga: BKN Tetapkan Skema Prosedur Pelaksanaan Seleksi ASN 2021

Baca Juga :   News Grafis : Tangkapan Ikan Pati Masuk Tiga Besar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *