Diperkenankan Gelar PTM, Protkes di Pesantren Harus Diperketat

DIPERKENANKAN GELAR PTM, PROTKES DI PESANTREN HARUS DIPERKETAT
Foto: Kunjungan Staf Kemenag di Salah Satu Pesantren di Pati/ Istimewa

Pati, Suryamedia.id – Saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarkat (PPKM) darurat, pesantren di Kabupaten Pati diperkenankan melakukan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Namun, para santri dikenai konsekuensi dilarang keluar pesantren, pulang kerumah, atau mendapat kunjungan selama masa PPKM.

Hal ini diungkapkan oleh Ahmad Zakki Fuadi, Staf Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Pati. ia menambahkan, aturan ini bahkan sudah diberlakukan sejak tahun ajaran baru santri bulan Syawal/Mei lalu.

“Edarannya jelas untuk pembelajarannya pendidikan TPQ, Madin, pondok pesantren secara umum dilaksanakan daring. Untuk pesantren itu kan di dalam pondok sudah menjadi karantina sendiri. sudah aman sejak antigen di tahun ajaran baru,. pembelajarannya lebih aman di pondok,” kata Zakki kepada Mitrapost.com melalui sambungan telepon, Rabu (14/7/21).

Sementara bagi ustad atau pengajar dari luar pesantren, diinstruksikan untuk menggelar pengajian secara daring. Santrinya tetap di pesantren, sedangkan sang ustad di mengajar dari rumah.

Dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren, Kemenag Pati tetap memprioritaskan keselamatan jiwa dan kesehatan para santri, kiyai, ustadz, dan tenaga pendidikan.

Baca Juga :   Tak Bisa Klaim Asuransi Pertanian, Petani Pati Wadul ke Wagub

Tim satgas jogo santri, diaktifkan berkewajiban mengecek kesehatan para santri secara berkala. Dengan memenuhi kebutuhan suplemen, hingga menyediakan ruang karantina.

Pengasuh dan ustad juga didorong untuk mengingatkan santri untuk selalu menerapkan protokol kesehatan 3M; memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Kalau menurut saya lebih aman di pesantren dari pada untuk siswa umum. Karena santri kan tetap di pondok sementara sekolah umum pulang bisa main dan sebagainya,” terang Zakki.

lebih lanjut Zakki mengatakan, pandemi Covid-19 tak mempengaruhi minat orangtua mendaftarkan anaknya untuk mondok, terbukti saat penerimaan santri baru jumlahnya cukup stabil.

“untuk pesantren pada dasarnya tidak ada masalah, karena pada dasarnya pendidikan pesantren tidak ada kaitannya dengan pendidikan formal. Jumlahnya saya kira tidak ada penurunan jumlah santri,” tandasnya. (*)

artikel ini telah tayang di Mitrapost.com dengan judul “Kemenag Minta Pengurus Pesantren Ketatkan Protokol Kesehatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here