Tradisi Penjamasan Bende Becak Dilakukan Secara Terbatas

TRADISI PENJAMASAN BENDE BECAK DILAKUKAN SECARA TERBATAS
Foto: Pelaksanaan tradisi Tradisi Penjamasan Bende Becak/ Mitrapost.com/ Aly Reza/

Rembang, Suryamedia.id – Tradisi Penjamasan Bende Becak merupakan ritual turun-temurun warga Desa Bonang, Kecamatan Lasem, yang dilaksanakan tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Atau bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, persis setelah salat Iduladha. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di tengah situasi PPKM Darurat saat ini tradisi tersebut berlangsung secara terbatas.

Dari pantauan Mitrapost.com pada Selasa (20/7/2021) kemarin, lokasi pelaksanaan ritual dijaga ketat oleh petugas dari Polsek Lasem, Koramil 06/Lasem, Satgas Covid-19 Kecamatan Lasem, dan dikontrol langsung oleh PLT Camat Lasem, Mohammad Mahfudz.

Muhammad Hasan Bakhri selaku Kepala Desa Bonang mengatakan, tradisi Penjamasan Bende Becak untuk tahun 2021 ini memang diupayakan secara terbatas. Hal tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap PPKM Darurat yang masih berlaku.

Baca Juga :   Covid-19 di Rembang Meningkat, Ketersediaan Nakes Masih Mencukupi

Beberapa upaya dilakukan oleh pihak Desa Bonang. Antara lain dengan menyekat area penjamasan, memastikan masyarakat yang hadir tetap mengenakan masker dan menjaga jarak, serta mempersingkat durasi seremonialnya.

“Prosesi penjamasan hanya dilakukan dari keluarga juru kunci biar nggak ada kerumunan. Acara sekarang pun khusus untuk masyarakat Bonang saja. Untuk air bekas penjamasan, kami usahakan agar nggak sampai rebutan. Masyarakat harus antre dan nanti dibagikan dari dalam (area penjamasan),” terangnya kepada Mitrapost.com.

Kiai Luthfil Hakim selaku juru kunci mengungkapkan, memang agak sulit melaksanakan tradisi tersebut di tengah PPKM Darurat. Pasalnya, memang sudah menjadi hal lazim jika masyarakat saling berebut untuk mendapatkan berkah dari air bekas penjamasan dan kain mori bekas penutup pusaka peninggalan Sunan Bonang tersebut.

Baca Juga :   Pengendara Tanpa Masker di SPBU Sluke Diminta Putar Balik

Namun, pihaknya menyadari bahwa bagaimanapun masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan, mengingat situasi pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Karena tidak mungkin jika tradisi tersebut harus ditiadakan.

“Dari zaman mbah-mbah dulu sudah ada, jadi harus dilaksanakan. Tapi bedanya dengan tahun kemarin, sekarang yang datang lebih sedikit. Kalau dulu-dulu kan sampai membludak. Sekarang lumayan kondusif,” jelasnya.

Penjamasan Bende Becak sendiri merupakan tradisi pembasuhan dan penggantian mori pusaka peninggalan Sunan Bonang berupa gong kecil atau disebut Bende. Setelah dibasuh, Bende tersebut kemudian disimpan dengan kain mori yang lebih baru.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air bekas penjamasan dan kain mori lawas dari Bende Becak mengandung berkah tersendiri. Sehingga banyak masyarakat yang berebut untuk mendapatkannya. (*)

Baca Juga :   Pasien Covid-19 Diimbau Memeriksakan Diri Sebelum Kondisi Kritis

artikel ini telah tayang di Mitrapost.com dengan judul “Penjamasan Bende Becak, Tradisi Turun-Temurun Warga Desa Bonang”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here