Olahan Limbah Sampah Warga Menjadi Maggot

OLAHAN LIMBAH SAMPAH WARGA MENJADI MAGGOT
Foto: TPST Rempoah di Kecamatan Baturraden, Banyumas/jatengprov.go.id

Purwokerto, Suryamedia.id – Guna mengurangi volume sampah, tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) olah limbah menjadi maggot (larva lalat), yang dijadikan sebagai salah satu pakan ternak.

Pengolahan limbah menjadi maggot bisa menjadi salah satu alternatif yang dapat mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

Produk ini menjadi salah satu olahan dari TPST Rempoah di Kecamatan Baturraden, Banyumas. Dimana dalam sehari dapat memproduksi sebanyak 60 kilogram maggot.

Pengelola TPST Rempoah, Nana Supriyana mengungkapkan bahwa pengolahan limbah menjadi maggot ini untuk mengurangi sampah kiriman.

Ia mengaku, prosesnya tidak terlalu rumit. Setelah sampah dari warga dikumpulkan, kemudian dipilah antara sampah organic dan anorganik. Selanjutnya sampah organic akan diolah menjadi maggot.

Saat ini terdapat sebanyak 25 pekerja di TPST Rempoah yang juga memiliki ribuan pelanggan.

“Saat ini pelanggan ada 2.000 (orang) dari Rempoah, ditambah lagi dari Desa Pamjien dan Kemutugkidul yang baru ini ada rumah sakit di Baturraden,” katanya, usai menerima kunjungan Bupati Banyumas dan jajarannya, di TPST Rempoah, beberapa hari lalu.

Baca Juga :   News Grafis : Dinperinaker Temanggung Latih 112 Tenaga Kerja

Dengan jumlah pegawai yang ada, pihaknya terus berusaha untuk menekan jumlah sampah yang ada, diantaranya dengan meningkatkan jumlah produksi maggot.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Junadi menyatakan, saat ini terdapat sebanyak 23 unit TPST yang ada di Banyumas.

Junaidi menambahkan dengan berjalanya 23 TPST tersebut, dapat mengurangi volume sampah yang harus dikirim TPA. Jika semula sampah yang diangkut 130 truk per hari, kini menjadi 30 truk per hari.

“Kami punya cita-cita, punya keinginan hanya separuhnya lagi. Jadi hanya 15 truk (sampah) yang boleh dibuang nantinya, sehingga masih 50 persen lagi PR kita untuk mengurangi timbunan sampah, supaya bisa dikurangi,” bebernya.

Menurutnya, inovasi berupa produksi maggot yang dihasilkan oleh TPST Rempoah cukup bagus. Bahkan, maggot yang saat ini dijual dalam kondisi basah seharga Rp5 ribu per kilogram, dapat juga dijual dalam bentuk kering seharga Rp30 ribu per kilogram.

Selaku fasilitator dan motivator, ia terus mendorong TPST untuk tetap berinovasi dalam mengelola sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan.

Baca Juga :   Dinkes Blora Catat Ada 16 Kasus DBD di Tiga Bulan Tahun Ini 

Sementara itu, Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM) pengelola TPST Rempoah.

“TPST Rempoah (ini) KSM-nya sudah mandiri, dengan memperkerjakan sebanyak 25 orang. Tidak rugi dan bisa mengatasi sampah, walaupun masih ada masalah-masalah tapi bisa diatasi,” kata bupati. (*)

artikel ini telah tayang di Mitrapost.com dengan judul “Kurangi Volume Sampah, TPST Olah Limbah Jadi Maggot”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here