Marak Terjadi Tindak Kejahatan Pencabulan di Jepara

Marak Terjadi Tindak Kejahatan Pencabulan di Jepara
Kepala Satreskrim Polres Jepara AKP M. Fachrur Rozi, dalam kegiatan pertemuan penggiat medsos, Kamis (16/9/2021) di Gedung Shima Kantor Setda Jepara/jepara.go.id

Jepara, Suryamedia.idPencabulan menjadi salah satu tren tindak kejahatan di kabupaten Jepara. Kasus ini, termasuk dalam 5 tren kejahatan yang paling banyak terjadi.

Hal ini diungkapkan Kepala Satreskrim Polres Jepara AKP M. Fachrur Rozi, dalam kegiatan pertemuan penggiat medsos, Kamis (16/9/ 2021) di Gedung Shima Kantor Setda Jepara. Hadir pula Bupati Jepara Dian Kristiandi dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jepara Arif Darmawan.

Ia mengaku bahwa tahun ini, pihaknya telah menangani tindak kejahatan pencabulan sekitar 76 kasus. Adapun faktor penyebabnya adalah beragam, salah satunya karena kurangnya pengawasan orangtua.

Kasus terbaru melibatkan KS (64), lansia asal Kecamatan Pakisaji. Dirinya tega mencabuli gadis disabilitas berinisial IN (16), yang merupakan tetangganya. Korban merupakan penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara.

Untuk menutupi kelakuannya itu, tersangka memperdaya korban dengan ancaman akan dibunuh. Korban juga diiming-imingi sejumlah uang.

Dari rinciannya, ada 5 tren kasus kriminalitas yang marak di Jepara. Terbagi dalam 2 bentuk kejahatan. Yaitu lewat IT, dan kejahatan konvensional. Kejahatan lewat IT yang marak di Jepara yaitu penipuan dan hoaks atau berita bohong. Sementara kejahatan konvensional meliputi pencabulan, narkoba, dan pencurian.

Baca Juga :   Ekonomi dan Wisata Meningkat dengan Adanya 24 Jam Listrik di Karimunjawa

“Faktor tindak kejahatan itu menurutnya beragam. Bisa karena faktor internal seperti skill dan lainnya juga faktor eksternal. Meliputi lingkungan, ekonomi, pendidikan dan lainnya,” terang AKP M. Fachrur Rozi.

Terkait dengan penipuan online, Rozi menyatakan ada banyak modus. Yakni pinjaman online, arisan online, telepon keluarga bermasalah, minta kode one time password (OTP), bukti transfer palsu, brand bagi-bagi hadiah atau voucher.

Sedangkan, untuk pencabulan, biasanya pelaku bermodus melakukan bujuk rayu, paksaan, pergaulan, atau kurang pengawasan. Terkait dengan pencabulan, Rozi menegaskan tidak akan berdamai dengan pelaku.

Sebab itu, dalam Fachrur Rozi menyatakan media sosial memiliki peran penting dalam mengurangi tindak kejahatan. Perannya harus ditingkatkan. Tak sekedar memberi informasi. Namun juga harus menyampaikan berita actual dan bisa dipercaya. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here