11 Artefak Temuan Warga di Klaten, Dipindahkan ke Monumen Juang

11 Artefak Temuan Warga di Klaten, Dipindahkan ke Monumen Juang
Foto: Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten melalui Bidang Kebudayaan memindahkan 11 artefak yang ditemukan di Desa Demakijo dan Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko ke Monumen Juang/jatengprov.go.id

Klaten, Suryamedia.id – Sebanyak 11 artefak yang ditemukan di Desa Demakijo dan Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko dipindahkan ke Monumen Juang.

Pemindahan tersebut dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten melalui Bidang Kebudayaan.

Adapun tujuan dari pemindahan 11 artefak adalah sebagai upaya untuk melestarikan benda yang termasuk dalam cagar budaya hasil temuan masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan Yuli Budi Susilowati mengatakan, Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut dipindahkan pada Selasa (12/10/ 2021) lalu dari lokasi ke Monumen Juang. Sebelumnya artefak tersebut tersebar di lahan milik masyarakat seperti areal persawahan, perkebunan, hingga tepi jalan umum.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ODCB yang tersebar agar lebih terawat dan terlestarikan. Karena, meski berada di lahan milik warga, tidak ada yang merawat,” ungkapnya, Jumat (15/10/ 2021).

Terdapat 11 artefak yang dipindahkan oleh Tim Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbudpora Klaten. Satu di antaranya berupa yoni, sementara sisanya pecahan arca dan batuan. Kegiatan ini juga bagian dari inventarisasi dan identifikasi benda cagar budaya.

Baca Juga :   Pemkab Klaten Izinkan Wisata Buka dengan Batasan Pengunjung

“Kalau tidak kami kumpulkan, dikhawatirkan bertambah rusak hingga sulit untuk diidentifikasi. Padahal artefak yang ditemukan bisa jadi memiliki catatan sejarah yang penting,” paparnya.

Selanjutnya pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Wilayah Kecamatan Karangnongko diperkirakan masih menyimpan banyak artefak yang masih belum ditemukan, terlebih di wilayah tersebut banyak terdapat situs bersejarah seperti Candi Merak.

Susi menjelaskan sebagian masyarakat masih belum memahami pentingnya pelestarian benda cagar budaya. Sehingga sebagian artefak yang ditemukan oleh warga kondisinya tidak terawat. Oleh karena itu, pihaknya perlu memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan pemahaman pelestarian benda cagar budaya.

“Ada sebagian lainnya terawat dan dilestarikan oleh masyarakat, seperti artefak yang kondisinya tidak terpendam. Namun ada juga yang sampai beralih fungsi sebagai batu fondasi karena ketidaktahuan sebagian masyarakat. Ini merupakan tugas kami untuk memberikan edukasi agar semakin banyak masyarakat yang memahami pelestarian benda cagar budaya,” katanya. (*)

 

Baca Juga :   Vaksinasi Kelompok Pralansia di Solo Dimulai 7 Juni Mendatang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here