Pembelajaran Daring Selama Pandemi Dinilai Turunkan Kedisiplinan Anak

Pembelajaran Daring Selama Pandemi Dinilai Turunkan Kedisiplinan Anak
Foto: Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti saat menjadi narasumber dalam Rakor Forum Media Sayang Anak dan Perempuan, yang diselenggarakan oleh DP3A Kota Semarang, di Dafam Hotel beberapa waktu lalu/semarangkota.go.id

Semarang, Suryamedia.id – Pandemi Covid-19 mengharuskan adanya pembatasan berbagai aktivitas, salah satunya adalah pembelajaran tatap muka ( PTM) yang kini beralih menjadi pembelajaran secara daring.

Namun sayangnya, pembelajaran daring ini dinilai kurang efektif. Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti menuturkan bahwa sistem pembelajaran ini, dapat menurunkan kedisiplinan anak hingga 80 persen.

Hal itu diungkapkannya dalam Rakor Forum Media Sayang Anak dan Perempuan, yang diselenggarakan oleh DP3A Kota Semarang, di Dafam Hotel, beberapa waktu lalu.

Detty sapaan akrabnya, menyebutkan, bahwa penting untuk Kembali membentuk karakter anak, agar bisa lebih semangat dalam menuntut ilmu.

“Anak- anak tidak belajar tatap muka sudah hampir
dua tahun. Mereka kehilangan rasa disiplin. Mereka bangun siang, tidak mandi,” katanya Detty sapaan akrabnya.

Detty menuturkan, peran orang tua sebagai pendukung di lingkungan keluarga dalam pendidikan anak sangat diperlukan. Dalam hal ini, orang tua bertanggungjawab untuk mendukung anak-anak bisa kembali ke sekolah dengan mengembalikan semangatnya yang dulu.

“Orang tua menjadi nomor satu yang harus support anak. Kalau ortu tidak support, apalagi guru atau pemerintah. Ring pertama orang tua,” imbuhnya.

Baca Juga :   Cek Harga Pasar, Bupati Semarang Sidak ke Pasar Bandarjo

Detty menyebut, perlu diadakan penyegaran dalam berkegiatan, misalnya saja saat PTM tidak harus selalu membahas materi pelajaran, tapi bisa dengan membangun kreativitas dalam belajar.

“Kerja tim harus dikenalkan kembali agar tidak canggung. Kita siapkan mereka ke depan hidup normal. Ide dan kreatifitas harus dipacu,” ucapnya

Sementara itu, Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin menambahkan, peran media dalam membangun Kota Semarang sangat penting.

Sayang perempuan dan anak juga menjadi program pemerintah pusat. Pemkot pun mencoba agar kekerasan terhadap anak dan perempuan bisa dikendalikan.

Meski Kota Semarang telah mendapatakan penghargaan pengarustamaan gender, menurutnya, perempuan dan anak tetap menjadi perhatian Pemkot.

“Penghargaan sebagai bonus. Kami bergerak tujuannya dalam rangka membangun kebersamaan, kita harus perhatikan perempuan dan anak agar mereka hidup happy tanpa ada kekerasan,” tuturnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here