Sarasehan Budaya Awali Ruwat Rawat Borobudur

Sarasehan Budaya Awali Ruwat Rawat Borobudur
Foto: Foto: Prosesi Ruwat Rawat Borobudur dengan penyerahan batu simbol pengabdian masyarakat terhadap pelestarian budaya tradisi Candi Borobudur/beritamagelang.id

Magelang, Suryamedia.id – Menjelang Ruwat Rawat Borobudur (RRB), diawali dengan Sarasehan Budaya.

Sarasehan Budaya yang digelar dengan tema “Mengembalikan Multi Spiritual Borobudur Melalui Tradisi”.

“Acara Pra Event menuju 20 Tahun Ruwat Rawat Borobudur kegiatannya lebih kami gunakan untuk riset dan evaluasi,” kata Budayawan, Sucoro, Senin (27/12).

Dikatakan Sucoro, dalam hal ini pihak inisiator budaya Brayat Panangkaran Borobudur bekerjasama dengan Kantor KESBANGPOL Provinsi Jawa Tengah, Kantor Balai Konservasi Borobudur, Kampoeng Semar Borobudur dan Diskominfo Kabupaten Magelang.

“Acara Sarasehan Budaya Insya Allah akan kami selenggarakan besok pada hari Selasa 28 Desember 2021 pukul 13.15 WIB-selesai,” jelasnya.

Sedangkan lokasi Sarasehan itu berada di Kampung Semar Brongsongan Borobudur. Sedangkan, jumlah peserta terbatas dengan protokol kesehatan bagi yang hadir. Sejumlah narasumber dalam sarasehan ini adalah tokoh budaya dan akademisi, diantaranya Peneliti atau Dosen Institut Puralisme Indonesia Wiliem Chan, Peneliti LIPI Deddy Adhuri, Dosen Universitas Sanata Dharma, Budi Sarwono dan lainnya.

“Jumlah peserta yang sudah mendaftar virtual sudah seratus lebih. Yang hadir langsung kita batasi dengan prokes ketat,” ujar Sucoro.

Baca Juga :   Ganjar Pastikan PTM 100 Persen di Jateng Berjalan dengan Baik

Menurut Sucoro, sarasehan ini sangat penting mengingat spiritual adalah energi atau kekuatan individu yang terkait dengan dunia kebatinan, atau secara sederhana sering diartikan sebagai daya individu dalam berhubungan dengan alam, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta Alam.

Gerak kehidupan yang didorong oleh spiritualitas, keyakinan dan kepercayaan akan mampu menghubungkan antara manusia, alam dan Tuhannya (hamba dan Khaliknya). Salah satu contohnya adalah Mahakarya Candi Borobudur, yang dibangun oleh dinasti Raja Wangsa Syailendra pada abad ke-8 Masehi. Candi Borobudur terbukti menjadi karya agung, monumen persembahan suci umat manusia kepada Tuhannya.

“Inspirasi yang diperoleh melalui ‘laku’ itu telah mewujudkan dirinya menjadi persembahan yang bernilai pusaka, pustaka dan pujangga bagi peradaban manusia,” jelas Sucoro.

Borobudur diwariskan oleh sebuah dinasti atau wangsa Syailendra yang beragama Buddha, pada umumnya orang beranggapan Borobudur hanya milik umat Buddha. Namun sesungguhnya, pesan yang termuat pada Candi Borobudur bernilai sangat universal. Tidak mengherankan jika UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage).

Baca Juga :   Wisata Jurang Jero di Lereng Gunung Merapi Kembali Dibuka

“Sarasehan Budaya ini diharapkan dapat tercipta kebersamaan dalam melestarikan, memanfaatkan dan mengembangan Warisan Budaya Borobudur dengan memperhatikan multi spiritual Borobudur yang melingkupinya,” harapnya.

Rangkaian hajatan budaya Ruwat Rawat Borobudur tahun 2022 berdasar nilai edukatif dan atraktif mulai dari sekolah lapangan hingga pagelaran budaya lintas generasi. Ratusan penari dan penggamel dari lereng Gunung Merapi, Menoreh, Andong, hingga Gunung Sumbing dilibatkan dalam kegiatan ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini