5 Fakta Candi Borobudur yang Jarang Diketahui

Fakta Candi Borobudur yang Jarang Diketahui
Fakta Candi Borobudur yang Jarang Diketahui/idxchannel

Suryamedia.id – Candi Borobudur menjadi perbincangan masyarakat karena adanya wacana menaikkan harga tiket ke areal candi.

Meskipun kenaikan harga ini masih dalam tahap pembahasan, namun masyarakat banyak yang menolak kenaikan tersebut.

Candi Borobudur memang salah satu tempat wisata sejarah kebanggan Indonesia. Selain karena keindahan bentuk dan arsiktekturnya, Candi Borobudur juga menyimpan berbagai fakta yang jarang diketahui oleh orang-orang.

Berikut ini fakta Candi Borobudur yang jarang diketahui.

Fakta Candi Borobudur

Pertama, fakta Candi Borobudur pertama, candi ini merupakan peninggalan Dinasti Syailendra. Pembangunan candi ini tidak diketahui secara pasti. Namun sejarawan bernama J.G. de Casparis mempercayai bahwa Candi Borobudur dibangun di masa Dinasti Syailendra. Informasi ini juga terdapat di situs Balai Konservasi Borobudur.

Pada masa itu kepemimpinan berada di tangan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra yaitu pada abad ke-7 hingga ke-8, tepatnya 782-812 masehi. Pendapat itu berdasarkan interpretasi prasasti berangka 824 masehi dan prasasti Sri Kahulunan berangka 842 masehi.

Bangunan candi sendiri dibangun dalam lima tahap menurut Arsitek Jacques Dumarcay. Tahap pertama di 780 masehi, tahap kedua dan ketiga 792 masehi, tahap keempat 824 masehi, dan tahap kelima 833 Masehi.

Baca Juga :   Jelang Pelaksanaan Event Besar, Vaksinasi di Kawasan Candi Borobudur Dipercepat

Kedua, bangunan Budha penuh makna. Bangunan candi ini memiliki makna yang berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dan menuju kebijaksanaan.

Gaya Mandala yang digunakan dalam pembangunan candi menggambarkan alam semesta bagi kepercayaan Budha.

Tingkatan vertikal candi juga memiliki maknanya sendiri. Tingkat pertama Kamadhatu, yang berarti alam dunia yang dihuni manusia.

Tingkat kedua Rupadhatu, yang berarti alam peralihan dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia.

Tingkat ketiga Arupadhatu, berarti alam tertinggi yang merupakan rumah Buddha.

Ketiga, pernah ditinggalkan karena letusan Gunung Merapi. Candi Borobudur pernah ditinggalkan setelah dibangun, diduga karena letusan Gunung Merapi.

Pada abad ke-18, Candi Borobudur kemudian sudah tidak digunakan lagi. Namun kemudian pada 1814, Candi Borobudur kembali ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa atas Indonesia kala itu.

Raffles juga memerintahkan pembersihan situs dari pepohonan dan semak belukar.

Keempat, dibangun di atas bukit. Candi Borobudur sebenarnya dibangun di atas bukit. Dalam naskah Jawa, Centhini menyebutkan lokasi candi ini sebagai bukit atau tempat yang dapat membawa kematian atau kesialan. Sehingga tempat ini sudah ditinggalkan sebagai tempat suci agama Buddha.

Baca Juga :   Candi Borobudur Ditutup Sementara dalam Pelaksanaan PPKM Mikro

Candi dibangun dengan batu-batu yang berasal dari sungai di sekitar Borobudur. Volume seluruh batu-batu tersebut sekitar 55 ribu meter kubik, atau sekitar 2 juta potong batu.

Struktur bangunan candi berbentuk kotak, dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Panjang candi mencapai 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi 35,40 meter.

Kelima, fakta Candi Borobudur terakhir. Relief candi Candi Borobudur memiliki 1.460 panil relief dan relief hias atau dekorasi sebanyak 1.212 panil.

Relief tersebut berada pada tingkatan Kamadhatu dan Rapadhatu. Tingkatan Kamadhatu sendiri terdiri dari 160 relief yang menceritakan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Relief ini menggambarkan sifat dan nafsu duniawi manusia.

Itulah fakta Candi Borobudur yang jarang diketahui. Hal ini tentu membuat kita bangga sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini