Mengenal Bimbingan Konseling (BK) dan Perannya dalam Pendidikan

Berita, Lifestyle3 Dilihat

Suryamedia.id – Bimbingan konseling (BK) merupakan bagian penting dalam pendidikan. BK merupakan kegiatan berupa bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli konseling secara tatap muka baik secara individu maupun beberapa orang dengan cara memberikan suatu pengetahuan atau informasi tambahan.

Informasi atau pengetahuan tambahan inilah yang diharapkan dapat berguna dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh seorang konseli.

Bagaimana dengan Pendidikan dan Bimbingan Konseling di Sekolah (Indonesia)?

Bicara pendidikan di Indonesia maka perlu lingkungan sekolah sebagai salah satu tempat anak memperoleh pendidikan dirumuskan dalam UUD No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 yang berbunyi:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Pendidikan dalam arti luas mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, nonformal, maupun informal dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugasnya secara optimal sehingga ia mencapai suatu taraf kedewasaan tertentu.

Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah menjadi “manusia yang baik” yang memiliki ciri: (a) aspek jasmani; badan sehat, kuat, serta mempunyai keterampilan, (b) Aspek akal; pikiran cerdas serta pandai, (c) aspek rasa, kalbu, ruhani: hati berkembang dengan baik.

Melihat kasus-kasus kekerasan pada beberapa daerah di negeri ini, termasuk kekerasan di lingkungan sekolah, seharusnya mendorong para pengambil kebijakan pendidikan untuk mengambil lankah-langkah antisipatif yang sifatnya edukatif dan preventif sebagai solusi.

Tetapi, beberapa lembaga sekolah justru mengabaikan tujuan utama pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap dan nilai, serta keterampilan secara terintegrasi dan seimbang. Hal yang terjadi sekarang adalah sekolah telah memberikan porsi yang berlebih terhadap pengetahuan kognitif, akibatnya porsi untuk pengembangan sikap dan perilaku, nilai dan moral luhur sangat minim. Oleh karena itu, peranan pendidikan perlu kiranya digalakkan kembali berkaitan dengan kondisi tersebut.

Pendidikan Karakter Pancasila

Diharapkan melalui pendidikan karakter di sekolah, akan tercipta generasi yang cerdas, bermoral, berakhlak mulia, dan berpendidikan.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi ‘insan kamil’.

Baca Juga :   10 Buah yang bikin Kulit Sehat, Wajib di Coba

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri yaitu kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Hal ini tentunya menantang masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penguatan nilai-nilai budi luhur sejak dini dengan mengimplementasikan pendidikan karakter terutama yang berwawasan pada kultur-sosial yang luhur dan bermartabat terutama di pendidikan formal maupun non formal. Karakter yang sesuai ditunjukkan pada sikap yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai karakter religius, peduli sosial, kemandirian, semangat kebangsaan, demokratis, toleransi, dan disiplin.

Nilai-nilai yang dapat diambil dari Pancasila untuk menguatkan pendidikan karakter, diantaranya pada sila ke-1 ada nilai toleransi beragama dalam pendidikan karakter peserta didik. Kemudian, sila ke-2 yaitu nilai memahami dan menghargai sesama manusia sehingga membentuk karakter yang beradab dan sila-sila yang lainnya.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, dan bernalar kritis.

BK Indonesia

Dalam bimbingan dan konseling komprehensif tediri atas empat komponen yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, sistem perencanaan individual, dan pendukung sistem.

Mengacu pada keterkaitan Bimbingan & Konseling dalam pendidikan, serta dengan pendidikan nasional berdasarkan atas konsep pendidikan, bimbingan, konseling dan bimbingan & konseling maka peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan karakter pada dasarnya:

(1). Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional, maka orientasi, tujuan dan pelaksanaan BK juga merupakan bagian dari orientasi, tujuan dan pelaksanaan pendidikan karakter;

(2) Program Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan bagian inti pendidikan karakter yang dilaksanakan dengan berbagai strategi pelayanan dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai kemandirian, dengan memiliki karakter yang dibutuhkan saat ini dan masa depan;

Baca Juga :   Perbaiki Postur Tubuh Secara Efektif

(3) Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai, layanan etis normatif, dan bukan layanan bebas nilai. Seorang konselor perlu memahami betul hakikat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai, namun seorang konselor tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani), dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya, melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya.

Dengan permasalah yang ada, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah melalui Bimbingan Konseling.

Mengingat bahwa di Indonesia, saat ini layanan Bimbingan dan Konseling pada sekolah merupakan tanggung jawab guru dan wali kelas (guru kelas) serta guru Bimbingan dan Konseling itu sendiri.

Personel profesional Bimbingan Konseling baru ada di tingkat formal pendidikan dan beberapa non formal. Pendekatan perkembangan yang berorientasi pada penciptaan lingkungan perkembangan tepat digunakan pendidikan salah satu pendekatan layanan Bimbingan dan Konseling.

BK Pancasila

Dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia sebenarnya mengacu pada Pancasila, yang sekarang dalam Kurikulum Merdeka sebagai profil pelajar Pancasila. Peran dan fungsi bimbingan dan konseling sesuai dengan profil pelajar Pancasila  yang berorientasi pada enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” (Ki Hadjar Dewantara)

Jika dikaitkan dengan implementasi Kurikulum Merdekaperan layanan bimbingan dan konseling dalam Kurikulum Merdeka adalah sebagai koordinator dalam mewujudkan kesejahteraan psikologis peserta didik (student wellbeing) dan memfasilitasi perkembangan peserta didik agar mampu mengaktualisasikan potensi dirinya.

Tugas guru BK adalah mengetahui dan juga memahami perilaku dan teknik konseling pada peserta didik sehingga mampu membantu peserta didik mengatasi permasalahannya. Bidang keilmuan yang berperan untuk melakukan bimbingan konseling antara lain ilmu pendidikan, sosial, psikologi dan ilmu konseling.

Bimbingan dan konseling berperan sebagai wadah untuk membantu siswa mengembangkan potensi dirinya menuju kemandirian. Selain itu bimbingan dan konseling juga berfungsi memberikan pemahaman, pencegahan, pengentasan, serta pemeliharaan dan pengembangan.

Baca Juga :   Ketua Komisi A DPRD Pati Tegaskan Perda Minol Akan Rampung Desember 2022

Bimbingan Konseling memang memiliki peran dan kedudukan yang penting bagi peserta didik. Peran Bimbingan dan Konseling itu sangat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Hal tersebut disebabkan Bimbingan dan Konseling dapat membantu mencari solusi atas masalah yang terjadi di dunia pendidikan.

Merdeka Belajar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dengan gaya belajar, potensi, serta minatnya yang beragam. Dalam hal ini kreativitas guru dan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran dan asesmen yang kontekstual. Dalam kerangka pembelajaran yang merdeka, pemerintah hanya mengatur rumusan capaian pembelajaran dan profil pelajar Pancasila sebagai tujuan utama dari proses pembelajaran.

Selebihnya, guru dan sekolah diberi keleluasaan dalam mengembangkan berbagai strategi untuk dapat mencapai tujuan tersebut.

Peran Organisasi Profesi

Peran profesi salah satu diantaranya menciptakan nilai tambah bagi para anggota, melayani kepentingan profesi melalui pemberlakuan regulasi, dan adanya professional-public partnership.

Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) adalah organisasi profesi di Indonesia yang beranggotakan guru Bimbingan dan Konseling atau konselor. Awalnya organisasi ini bernama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang didirikan pada tanggal 17 Desember 1975.

Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan kompetensi profesi serta memperjuangkan otonomi profesi. Sedangkan, kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta merumuskan standar pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta menetapkan kebijakan profesi.

Suatu organisasi profesi juga dapat mengembangkan dan memajukan profesi; memantau dan memperluas bidang gerak profesi, menghimpun dan memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi serta up date. 

Dengan perkembangan pendidikan dan peserta didik, maka perlu dimunculkan dan diimplementasikan dalam kehidupan pendidikan di Indonesia dan kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, suatu produk pendidikan yaitu manusia yang memiliki jiwa pancasila melalui konsep bimbingan dan konseling Pancasila. Profesi ABKIN perlu mengaji agar manusia Indonesia menjadi manusia beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

 

Dr. Drs. H. Tri Leksono Ph., S.Kom., M.Pd., Kons.

Ketua PD ABKIN Jawa Tengah,

Wakil Rektor UNISVET Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *